Senin, 19 Mei 2014

I don't wanna love somebody else (2)



“kamu gak bisa nemenin aku ke salon xel?” ucap kiara menatap tajam ke arah axel
“sori ya aku gak bisa, aku ada janji sama temenku”
“halah alasan kamu aja, katanya kamu sayang sama aku!”
“ya sayang emang harus nganterin ke salon gitu biar dibilang sayang?” Tanya Axel dengan tatapan jenuh terus dipersalahkan dan dipertanyakan kesungguhannya
“udah lah aku sendiri aja! Bye” 

Axel menarik nafas panjang dan melihat kiara menutup pagar rumahnya dan menghilang setelah taksi yang ia pesan datang. Axel merasa lelah dan menyerah pada wanita yang dahulu sangat manis dan berbeda dari gadis lainnya, tetapi ia telah salah langkah. Kiara tak seperti yang ia kira. Wajahnya yang cantik tak bisa menipu hatinya yang berawan. Axel merindukan mika, ia meraih ponselnya dan menekan nomor mika. Ia menunggu mika menjawab telepon darinya namun seperti biasa, mika enggan mengangkat. Semenjak terakhir kali axel meneleponnya, mika jadi rajin untuk me’reject’ telepon darinya.

---

“Mika, antar mama belanja yuk” Panggil mama dari dapur
Mika yang sedang bersantai diruang tamu sambil menonton acara gossip tak memperhatikan bahwa mama nya sedang berbicara dengannya.

“Kak mika dipanggil mama tuh!” Ucap adik bungsunya
“Apa dek?” mika menoleh malas ke adik bungsunya yang sedang makan cokelat
“dipanggil mama”
Mika bangkit lalu berjalan ke dapur dengan sedikit malas. Akhir-akhir ini ia sedang mengalami moody. Tak jarang adik serta mama papanya menjadi korban dari perubahan mood yang mika rasakan.

“mama manggil mika?” Tanya mika dari balik pintu dapur
“Iya, antar mama belanja yuk”
“Engga ah ma, mika lagi gak mood” tolak mika
“yah pasti kamu seneng deh ayo lah ya”
“mama mika gak mau gak mau gak mau” tolak mika, ia mengerucutkan bibirnya
“oke oke kamu jaga rumah jangan sampe kemana-mana bentar lagi papa pulang”
“sip”

Mika kembali ke singgasana nya, kali ini ia benar benar tidak memperhatikan acara yang disajikan di televisi, ia sibuk berkelana dengan pikirannya seraya mengganti ganti channel. Ia tak habis fikir, axel jadi rajin meneleponnya dan membalas setiap tweet tidak penting nya. Mika enggan untuk men-stalking twitter axel karena ia tahu bahwa itu akan menghancurkan hati dan moodnya.

Tok.. tok…

“assalamualaikum” Sapa seorang laki-laki dari balik pintu
“dek kamu buka gih” Ucap mika
“kenapa harus boni sih kak?” protes adik laki-lakinya
“yaudah sih kamu kan yang paling kecil” kali ini mika menatap adiknya lekat-lekat dengan tatapan itu adiknya langsung bangkit dan menuju pintu tanpa berkata sepatah katapun. Belum lama berada di luar adiknya masuk kembali menghampiri mika.
“mau ketemu kakak tuh” ucap boni

“siapa?”
“cowok tuh didepan”
“siapa sih?” Tanya mika penasaran
“ke depan aja sendiri” ujar boni dan langsung lari ke kamarnya
“ih nih anak rese deh” dengan malas mika pun bangkit dari sofa dan berjalan kea rah pintu. Seorang lelaki berdiri memunggungi nya memandang ke arah pagar.
“maaf mas cari siapa?” Tanya mika

Lelaki itu berbalik membawa sebuket bunga mawar, ternyata hanya kurir bunga yang datang. Tapi itu bunga untuk siapa? Mama? Gak mungkin. Boni? Apalagi. Untuknya? Tapi dari siapa? Kekasih saja tidak ada. Secret admirer? Hah dikira novel!

“mbak maaf dengan mbak mika betul?” ujar lelaki itu membuyarkan lamunannya
“he-eh mas”
“ini ada kiriman bunga, tolong tanda tanganin disini ya”
“dari siapa ya mas?” Tanya mika penasaran
“Maaf mbak saya hanya bertugas untuk megantar saja”
“oh gitu iya makasih mas”

Setelah kurir tersebut menghilang dari pengelihatannya ia menutup pintu dan segera memperhatikan bunga tersebut. Wangi, kesukaannya dan tak ada kartu ataupun identitas pengirimnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar