“kamu gak bisa nemenin aku
ke salon xel?” ucap kiara menatap tajam ke arah axel
“sori ya aku gak bisa, aku
ada janji sama temenku”
“halah alasan kamu aja, katanya
kamu sayang sama aku!”
“ya sayang emang harus
nganterin ke salon gitu biar dibilang sayang?” Tanya Axel dengan tatapan jenuh
terus dipersalahkan dan dipertanyakan kesungguhannya
“udah lah aku sendiri aja!
Bye”
Axel menarik nafas panjang
dan melihat kiara menutup pagar rumahnya dan menghilang setelah taksi yang ia
pesan datang. Axel merasa lelah dan menyerah pada wanita yang dahulu sangat
manis dan berbeda dari gadis lainnya, tetapi ia telah salah langkah. Kiara tak
seperti yang ia kira. Wajahnya yang cantik tak bisa menipu hatinya yang
berawan. Axel merindukan mika, ia meraih ponselnya dan menekan nomor mika. Ia
menunggu mika menjawab telepon darinya namun seperti biasa, mika enggan
mengangkat. Semenjak terakhir kali axel meneleponnya, mika jadi rajin untuk
me’reject’ telepon darinya.
---
“Mika, antar mama belanja
yuk” Panggil mama dari dapur
Mika yang sedang bersantai
diruang tamu sambil menonton acara gossip tak memperhatikan bahwa mama nya
sedang berbicara dengannya.
“Kak mika dipanggil mama
tuh!” Ucap adik bungsunya
“Apa dek?” mika menoleh
malas ke adik bungsunya yang sedang makan cokelat
“dipanggil mama”
Mika bangkit lalu berjalan
ke dapur dengan sedikit malas. Akhir-akhir ini ia sedang mengalami moody. Tak
jarang adik serta mama papanya menjadi korban dari perubahan mood yang mika
rasakan.
“mama manggil mika?” Tanya
mika dari balik pintu dapur
“Iya, antar mama belanja
yuk”
“Engga ah ma, mika lagi
gak mood” tolak mika
“yah pasti kamu seneng deh
ayo lah ya”
“mama mika gak mau gak mau
gak mau” tolak mika, ia mengerucutkan bibirnya
“oke oke kamu jaga rumah
jangan sampe kemana-mana bentar lagi papa pulang”
“sip”
Mika kembali ke singgasana
nya, kali ini ia benar benar tidak memperhatikan acara yang disajikan di
televisi, ia sibuk berkelana dengan pikirannya seraya mengganti ganti channel. Ia
tak habis fikir, axel jadi rajin meneleponnya dan membalas setiap tweet tidak
penting nya. Mika enggan untuk men-stalking twitter axel karena ia tahu bahwa
itu akan menghancurkan hati dan moodnya.
Tok.. tok…
“assalamualaikum” Sapa
seorang laki-laki dari balik pintu
“dek kamu buka gih” Ucap
mika
“kenapa harus boni sih
kak?” protes adik laki-lakinya
“yaudah sih kamu kan yang
paling kecil” kali ini mika menatap adiknya lekat-lekat dengan tatapan itu
adiknya langsung bangkit dan menuju pintu tanpa berkata sepatah katapun. Belum
lama berada di luar adiknya masuk kembali menghampiri mika.
“mau ketemu kakak tuh”
ucap boni
“siapa?”
“cowok tuh didepan”
“siapa sih?” Tanya mika
penasaran
“ke depan aja sendiri”
ujar boni dan langsung lari ke kamarnya
“ih nih anak rese deh”
dengan malas mika pun bangkit dari sofa dan berjalan kea rah pintu. Seorang
lelaki berdiri memunggungi nya memandang ke arah pagar.
“maaf mas cari siapa?”
Tanya mika
Lelaki itu berbalik
membawa sebuket bunga mawar, ternyata hanya kurir bunga yang datang. Tapi itu
bunga untuk siapa? Mama? Gak mungkin. Boni? Apalagi. Untuknya? Tapi dari siapa?
Kekasih saja tidak ada. Secret admirer? Hah dikira novel!
“mbak maaf dengan mbak
mika betul?” ujar lelaki itu membuyarkan lamunannya
“he-eh mas”
“ini ada kiriman bunga,
tolong tanda tanganin disini ya”
“dari siapa ya mas?” Tanya
mika penasaran
“Maaf mbak saya hanya
bertugas untuk megantar saja”
“oh gitu iya makasih mas”
Setelah kurir tersebut
menghilang dari pengelihatannya ia menutup pintu dan segera memperhatikan bunga
tersebut. Wangi, kesukaannya dan tak ada kartu ataupun identitas pengirimnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar