Rabu, 21 Mei 2014

I don't wanna love somebody else (3)



Mika menghempaskan badannya ke sofa dan masih berpikir siapa yang mengirimkan buket bunga indah tersebut. Ia meraih handphone nya dan menekan tombol hijau untuk menghubungi seseorang.

“Iya halo, ke rumah gue sekarang bisa ya” Ucap Mika mengawali pembicaraan
“Oke oke gue tunggu, bye” lanjutnya dan menekan tombol merah. End call

Ia bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamarnya. Ia meraih sebuah kaset cd yang berada ditumpukan buku setebal 5 cm. ia membolak-balikan kaset cd tersebut dan bergumam. Ia hendak mengambil handphone untuk menghubungi seseorang yang lain, seseorang yang kini mengacak-acak pikirannya.

“Gimana ya? Penasaran banget gue, elo bukan sih?” ucap mika berbicara sendiri

Dari luar kamar boni mengetuk pintu sangat keras dan memberitahu bahwa sahabatnya telah datang. Ia segera mempersilahkan masuk dan mengunci rapat pintu kamarnya, rapat hati telah dimulai.

“Jadi kenapa?” Tanya nadia gadis berambut panjang sahabatnya sejak 2 tahun lalu
“Nih”

Mika memberikan sebuket mawar yang baru ia terima dari orang yang tidak dikenal dari perantara seorang kurir. Ia tersenyum dan mengangkat bahunya. Nadia memperhatikan buket tersebut dan berusaha menemukan identitas dari pengirim tersebut.

“Bunga nya wangi, Mik” Ucap Nadia mencium bunga itu berulang kali
“Iya wangi, eh tapi bukan itu masalahnya! Focus ah” Ujar mika ikut membaringkan tubuhnya disamping nadia
“menurut lo siapa nad?” lanjutnya
“ya secret admirer mungkin?”
“atau.. mantan?” lanjut nadia dengan tatapan jahil
“Mbak ini bukan novel gak ada yang namanya secret admirer!” Ucap mika mantap

Ia tidak menanggapi ucapan sahabatnya tentang mantan. Baginya mengingat Axel sama saja dengan membuka luka yang hampir kering. Ia hanya menatap kosong ke langit langit kamarnya. Entah siapa dia yang mengirim buket tersebut dan apa tujuannya, entah.

“Mungkin Cuma hari ini nad” ucap mika
“sok tau!” sergah nadia cepat
“ya iyalah ginian kan mahal bisa bangkrut kali”
“heh ya lo masih mikirin budget, dasar!” ucap nadia gemas
“Eh lo yakin yang ngirim bukan axel?” lanjutnya
“bukan” jawab mika cuek

“gue udah cek twitternya kayaknya lagi nyari cewek baru” lanjutnya
“bukannya dia udah punya cewek?”
“ya punya atau engga bukan urusan gue yang penting pasti bukan dia!”
“dia udah gak ngehubungin gue sejak gitu deh udah yang pasti bukan dia” ujar mika mantap. Ia menutup muka nya dengan bantal, air matanya mengalir. Mengingat axel yang kini bisa bahagia tanpa dirinya membuat kadar kebenciannya kepada laki-laki yang pernah ada dikehidupannya meningkat.

---

“gini deh kamu maunya apa sih?” ucap kiara dengan nada yang di tinggikan
Axel hanya menatap kiara dengan pandangan jenuh dan ingin segera menyudahi semuanya. Ia bermimpi terlalu jauh, ia tidak mendapat apa yang ia butuhkan. Kenyamanan dalam berhubungan malah semakin menjauh darinya ketika ia terus menjalani hubungan dengan kiara.

“Jawab axel!”

“kita putus” ucap axel mantap 

Matanya bertemu dengan mata kiara, tatapan yang ia rasa tidak sehangat dulu bahkan kini ia sadar tak pernah ada kehangatan dalam hubungan mereka. Axel merasa selama ini hanya seperti hubungan pertemanan. Rasa sayang yang sering ia lontarkan hanya lah sebuah kata, hatinya tidak pernah benar-benar menyayangi perempuan yang berada dihadapannya.

“Sebaiknya kita temenan aja, aku udah gak nyaman sama semua ini” lanjutnya

Kiara hendak melontarkan kata-kata untuk memperbaiki hubungannya dengan axel. Namun axel berbalik dan mengambil kunci motornya. Air matanya kini sudah tidak terbendung lagi, axel hanya diam.

“gue anter lo balik sekarang” ucap axel dingin lalu berjalan ke beranda rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar